Alasan Umum Seseorang Melakukan Tindakan Kejahatan

Pemberitaan mengenai tindakan kriminal seolah tidak ada habisnya. Bahkan beberapa stasiun TV membuat acara berita khusus untuk memberitakan peristiwa-peristiwa tindak kriminal di negara ini.
Lalu apa yang sebenarnya menjadi alasan atau dorongan seseorang untuk melakukan tindakan tersebut? Berikut beberapa kemungkinan yang melatarbelakangi:

1. Kondisi Mental
Degradasi mental dapat muncul dalam banyak bentuk, dimulai dari stres, depresi hingga kelainan mental. Semua itu dapat menjadi salah satu penyebab paling umum mengapa seseorang berbuat jahat terhadap sesamanya. Mereka yang mengalami degradasi mental dapat dengan mudah menyakiti orang lain. Alasannya adalah untuk melepaskan perasaan tertekan dalam diri mereka ataupun karena basis kelainan mental yang mereka derita. Inilah sebabnya mengapa gejala-gejala degradasi mental harus dirawat sebelum menjadi lebih parah.

2. Alkohol dan Narkoba

Bagaimanapun seseorang berusaha membenarkan alkohol dan narkoba, ada fakta jelas di masyarakat kita bahwa alkohol dan narkoba adalah salah satu penyebab paling umum mengapa seseorang dapat bertindak jahat. Baik dari alkohol yang dapat mengaburkan kesadaran seseorang hingga narkoba yang dapat menyebabkan seseorang kecanduan, keduanya dapat membuat seseorang takabur dan melakukan sebuah aksi kriminal. Walaupun dalam kasus narkoba biasanya si kriminal bukan pengguna narkoba, namun mereka adalah bagian kecil dari rantai besar obat terlarang yang menarik orang-orang ke lubang tidak berdasar itu.

3. Kebutuhan Akan Uang

Tidaklah jarang kita melihat orang-orang kaya tetap melakukan kejahatan karena keinginan mereka untuk mendapatkan uang lebih banyak lagi. Jika orang yang sudah kaya saja bisa melakukan kejahatan karena hal ini, apalagi mereka yang hidup tidak berkecukupan. Dengan kata lain, kemiskinan atau memiliki penghasilan yang relatif rendah sering sekali menjadi salah satu penyebab yang paling sering terlihat dalam sebuah aksi kejahatan.

3. Media

Ada alasan mengapa setiap media memiliki rekomendasi usia mereka sendiri, dimulai dari majalah hingga ke TV. Hal ini karena semua program yang ada di media baik Televisi, bioskop, koran, games, Internet, ataupun musik dapat mempengaruhi bagaimana seseorang berpikir dan bertindak, apalagi jika penikmat mereka adalah orang-orang yang masih muda. Biasanya terjadi terhadap remaja dan anak kecil, mereka tidak dapat membedakan apa yang dimaksud dengan hiburan dan realita hingga akhirnya aksi jahat dalam sebuah media dilakukan di kehidupan nyata.


4. Moralitas

Sebagaimana moralitas sering dipandang sebagai obat dari aksi kejahatan, moralitas juga berarti adalah salah satu penyebab paling umum mengapa seseorang dapat berbuat jahat di kehidupannya. Sebelum kita membahas hal ini tentu kita harus mengerti apa itu moralitas. Singkatnya, moralitas adalah bagaimana seseorang dapat membedakan apa yang baik dan apa yang buruk.
Alasan mengapa moralitas adalah salah satu penyebab paling umum dari tindakan kejahatan adalah karena ternyata ada banyak orang yang menganggap bahwa tindakan kriminal yang dilakukan sebenarnya tidaklah salah. Contoh sederhana adalah mengendarai motor tanpa helm, beberapa orang akan melihat hal ini tidak ada salahnya sedangkan hukum sendiri mengatakan ini adalah hal yang salah. Hal ini semakin sering ditemukan terhadap mereka yang masih muda, dimana pengertian akan yang baik dan yang buruk belum begitu kental. Sebuah studi juga membuktikan hal ini dengan menemukan bahwa alasan mengapa seseorang tidak berbuat jahat adalah karena mereka tahu itu salah, bukan karena tidak ada kesempatan atau peluang.

5. Latar Belakang Keluarga

Keluarga adalah bagian paling berpengaruh untuk membentuk karakter dan invidualitas seseorang. Setelah diteliti lebih dalam, ada banyak sekali kondisi berbeda dalam kehidupan keluarga seseorang yang ternyata sering menjadi salah satu penyebab seseorang berbuat jahat. Sebagai contoh, anak-anak yang diabaikan, ditinggalkan, atau dianiaya dan tumbuh dalam keluarga disfungsional, akan memiliki kemungkinan yang lebih tinggi untuk melakukan aksi kejahatan di kehidupannya nanti dibandingkan mereka yang tumbuh dalam keluarga baik-baik.